Batam, maritimraya.com (mara) – Pencemaran laut akhirnya menghantam kawasan pesisir Kota Batam. Kali ini, laut, sungai, dan pantai dangas di wilayah Tanjung Pinggir, Kecamatan Sekupang Batam tercemar limbah hitam pekat akibat kandasnya Kapal LCT Mutiara Galrib Samudera di Perairan Dangas, pada kamis (29/1/2026)
Kapal pengangkut limbah tersebut kandas dalam kondisi miring sekitar 60 derajat. Insiden itu menyebabkan muatan limbah yang dikemas dalam kantong plastik hitam lalu masuk kejumbo bag tercecer dan mencemari perairan, bahkan terbawa arus hingga ke Pantai Dangas dan Pantai Tangga Seribu, kawasan Patam Lestari.
Dampak pencemaran ini langsung dirasakan nelayan tradisional. Area tangkap ikan tercemar, sementara keramba ikan milik warga dilaporkan rusak dan terancam gagal panen.
Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kecamatan Sekupang, Bambang Lestari, menyebut tumpahan limbah hitam itu membuat nelayan tidak dapat melaut.
“Dengan tumpahan minyak hitam pekat ini, ikan dan biota laut pasti menjauh. Kami tidak bisa menangkap ikan. Nelayan sangat dirugikan dan berharap ada kompensasi,” ujarnya.
Bambang juga menuturkan, pada malam hari setelah kejadian, nelayan bersama pekerja perusahaan limbah berupaya mengangkut kantong-kantong plastik berisi limbah hitam yang tercecer ke truk pengangkut limbah. Upaya itu dilakukan secara darurat untuk mencegah pencemaran semakin meluas.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Kapal LCT Mutiara Galrib Samudera membawa sekitar 250 jumbo bag limbah hitam. Sebagian muatan diduga jatuh ke laut saat kapal kandas, lalu menyebar mengikuti arus hingga mencemari kawasan pantai.
Sebelumnya diberitakan kapal tersebut diketahui mengangkut limbah dari kawasan Batu Ampar. Limbah hitam diambil dari kapal tanker, dibongkar di Pelabuhan Bintang 99, kemudian direncanakan dibawa menuju kawasan Kabil.
“Kapalnya kandas di perairan Dangas. Limbahnya berceceran sampai ke Pantai Tangga Seribu dan Dangas,” ujar seorang warga yang menyaksikan langsung kondisi di lokasi.
Selain mencemari lingkungan, insiden ini juga menyisakan kisah solidaritas nelayan. Warga setempat turut membantu mengevakuasi enam kru kapal yang terjebak di atas kapal. Seluruh kru berhasil diselamatkan dalam kondisi selamat menggunakan perahu nelayan.
“Nelayan di sini kemarin ikut bantu evakuasi kru kapal,” kata seorang saksi lainnya.
Kini, pantai di sekitar lokasi tampak menghitam dan dipenuhi sisa limbah. Warga menyayangkan kejadian tersebut karena dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari laut.
“Pantai jadi sangat kotor. Harus ada pihak yang bertanggung jawab untuk membersihkan dan menangani pencemaran ini,” keluh warga.
Nelayan berharap pemerintah dan pihak terkait segera turun tangan, tidak hanya membersihkan perairan yang tercemar, tetapi juga memberikan kejelasan tanggung jawab serta ganti rugi atas kerugian yang mereka alami











