![]() |
Ket Poto: poto Bersama Tim Pengabdi ITEBA Batam dan Nelayan Tradisional Kecamatan Nongsa Batam |
BATAM, MARITIMRAYA.COM – (MARA), Tim pengabdi Institut Teknologi Batam (ITEBA) bekerja sama dengan mitra Dewan Pengurus Daerah Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (DPD KNTI) Batam sukses melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat dengan topik “Formasi kura-kura tempurung buah kelapa sebagai penahan erosi pantai serta media penanaman bakau”.
Kegiatan pengabdian ini terbagi menjadi dua tahap. Yakni Tahap pertama berupa sosialisasi dan pelatihan yang dilaksanakan pada tanggal 12 September 2024. Pada tahap ini, masyarakat Kampung Terih/Kelembak diperkenalkan dengan konsep Formasi Kura-kura dan diberikan pelatihan mengenai cara pembuatan dan perawatannya .
Dan Tahap kedua pada tanggal 21 September 2024, Tim pengabdi ITEBA bersama masyarakat melakukan pemasangan langsung Formasi Kura-kura di sepanjang pantai Kampung Terih/Kelembak.
Adapun lokasi pengabdian terletak di pesisir pantai Kampung Terih/Kelembak Kel, Sambau Kec, Nongsa Batam dengan melibatkan nelayan Tradisional dan masyarakat di sekitarnya.
Ketua pengabdi ITEBA, Bapak Dipl.Ing Hery Sumarsono, DEA kepada awak media mengatakan skema program pemberdayaan berbasis masyarakat dengan ruang lingkup pemberdayaan kemitraan masyarakat ini didanai oleh Kemendikbudristek dengan nomor kontrak: 132/E5/PG.02.00/PM.BARU/2024 dengan anggota Sari Rahmiati, S.Pd., M.Pd., Eko Sulistyono, S.Si., M.Si. serta mahasiswa ITEBA.
Dikatakanya formasi kura kura merupakan metode baru yang memanfaatkan belahan tempurung kelapa yang disusun berjajar sebagai penghalang erosi alami serta media penanaman bibit pohon bakau di wilayah pesisir pantai.
“Struktur formasi kura-kura dirancang untuk memberikan stabilitas yang lebih baik dibandingkan dengan metode konvensional lainnya, dengan memanfaatkan kekuatan alami tempurung kelapa serta bentuk geometris yang menyerupai cangkang kura-kura.” Ujarnya.
Selain itu tempurung kelapa dibelah menjadi dua dengan bagian atas berlubang (untuk media penanaman bibit pohon bakau) yang disusun secara tengkurap serta dipasang tali serta pasak dari ranting kayu untuk membuatnya stabil dan tidak mengambang pada saat air pasang.
Tempurung kelapa menawarkan potensi besar sebagai solusi alami untuk mengatasi erosi pantai yang memiliki keunggulan sebagai bahan yang kuat, tahan lama, mudah didapatkan dan bahkan masih dianggap sebagai sampah. Bahkan, tempurung kelapa dapat didaur ulang dan tidak menghasilkan limbah yang berbahaya bagi lingkungan. Sehingga program percontohan ini dapat dilanjutkan oleh masyarakat nelayan untuk memperbaruhi ekosistem pesisir pantai mereka.
” Melalui kegiatan pengabdian ini, diharapkan masyarakat Kampung Terih/Kelembak dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru dalam mengatasi erosi pantai. Selain itu, implementasi Formasi Kura-kura juga diharapkan dapat memberikan dampak positif jangka panjang bagi kelestarian lingkungan pesisir” Tutup Wakil Rektor, Kaprodi Jurusan Manajemen Rekayasa ITEBA Batam.