Batam, maritimraya.com (MARA) – Tingginya biaya operasional melaut yang tidak sebanding dengan hasil tangkapan ikan mendorong sebagian nelayan tradisional mencari sumber penghasilan tambahan.
Salah satunya dilakukan Hayat (60), nelayan sekaligus anggota Dewan Pengurus Cabang (DPC) Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kecamatan Sekupang yang memanfaatkan keahliannya membuat sampan dan pompong berbahan kayu.
Di sela aktivitasnya sebagai nelayan yang menangkap ikan menggunakan pancing, rawai, dan jaring di perairan Batu Ampar dan perairan Sekupang, Batam, Hayat mengerjakan pembuatan sampan dan pompong secara mandiri. Hasil karyanya dikenal berkualitas dan banyak digunakan nelayan sebagai sarana transportasi sekaligus penunjang aktivitas melaut.
Saat ditemui awak media pada minggu (19/7/2026) di lokasi pembuatan kapal, Hayat mengatakan tantangan terbesar yang dihadapi para pengrajin kapal tradisional adalah sulitnya memperoleh bahan baku kayu.
“Kami berharap pemerintah dapat membantu ketersediaan kayu untuk pembuatan sampan tradisional. Jangan sampai nelayan yang membuat kapal untuk mencari nafah justru mendapat sanksi. Usaha ini bukan hanya menghidupi keluarga kami, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Hayat, lama pengerjaan sebuah sampan atau pompong bergantung pada ukuran kapal yang dibuat. Rata-rata proses pembuatannya memakan waktu antara satu hingga dua bulan hingga kapal siap digunakan.
Selain memproduksi kapal, Hayat mengaku siap membagikan ilmu yang dimilikinya kepada generasi muda, khususnya anak-anak nelayan maupun masyarakat umum yang ingin mempelajari teknik pembuatan sampan dan pompong tradisional.
“Saya bersedia mengajarkan siapa saja yang ingin belajar. Harapan saya, keahlian membuat kapal tradisional ini tidak hilang dan dapat diteruskan oleh generasi berikutnya,” katanya.
Ia juga berharap usaha pembuatan sampan, pompong, maupun perahu cepat (speedboat) yang dirintisnya mendapat perhatian dan dukungan pemerintah melalui pembinaan, kemudahan memperoleh bahan baku, serta bantuan peralatan produksi.
Dukungan KNTI Sekupang
Hayat menambahkan, kegiatan yang dijalaninya mendapat dukungan dari Ketua DPC KNTI Kecamatan Sekupang, Bambang Lestari, yang terus mendorong peningkatan ekonomi nelayan melalui berbagai program pemberdayaan.
Bambang Lestari sebagai Ketua DPC KNTI Kecamatan Sekupang aktif melaksanakan berbagai kegiatan sosial dan pelestarian lingkungan. Di antaranya penanaman ribuan pohon mangrove bersama Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Kepulauan Riau dan PT PELNI Cabang Batam, serta kegiatan bersih pantai di kawasan Pantai Senggara, Kelurahan Tanjung Pinggir, Kecamatan Sekupang.
Selain itu, Bambang Lestari juga mengembangkan usaha wisata bahari berbasis kearifan lokal bersama pengelola Pantai Senggara sebagai upaya membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
Berbagai program Selama masa kepengurusan Ketua DPC KNTI Sekupang berdasarkan Surat Keputusan (SK) periode September 2023 dan akan berakhir September 2026, menjadi bagian dari agenda KNTI Sekupang dalam memperkuat kesejahteraan nelayan tradisional sekaligus menjaga kelestarian ekosistem pesisir.
kisah Hayat menjadi bukti bahwa keterampilan membuat kapal tradisional dapat menjadi sumber penghasilan alternatif di tengah tingginya biaya operasional melaut dan hasil tangkapan yang belum menentu, sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat pesisir serta menjaga warisan budaya maritim agar tetap lestari. ** tim










